RSS

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2009

Belajar mendengarkan

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon.


"Hallo?" dadaku berdegup-degup kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.

"Mama?" terdengar suara di seberang sana.

Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku.

"Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."

Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.

"...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..."

Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..."

"Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." ia meminta. Ia tampak putus asa.

Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang,tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!"

Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?"

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik.

Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada di sana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."

Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.

"Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."

Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku.

"Mama mendengarkanmu," aku berbisik.

"Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang."

"Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.

"Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri."

"Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang."

"Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."

"Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."

Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri.

"Nah, itu taxinya datang."

Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega.

"Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Air mata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.

Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku.

Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"

Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."

"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya.

Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku.

"Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi.

"Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.

Gratis

Saking berangnya pada ibunya yang seringkali menyuruhnya melakukan ini dan itu, pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisinya.

Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak:

= Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7.500,00
= Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5.000,00
= Untuk pergi ke toko menggantikan mama Rp. 10.000,00
= Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp. 15.000,00
= Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5.000,00
= Untuk raport yang bagus Rp. 25.000,00
= Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12.500,00
------------------------------------------------------------------------
Jumlah hutang Rp. 80.000,00

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu.

Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya, dan menulis:

. Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama, GRATIS.
. Untuk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu,GRATIS.
. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini,GRATIS.
. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, GRATIS.
. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, GRATIS.

Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati itu GRATIS.

Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, anak itu menatap wajah ibunya dan berkata:
'Ma, aku sayang sekali padamu'.

Kemudian sang ibu mengambil pulpen dan menulis dengan huruf besar-besar: "LUNAS"


Selasa, 01 September 2009

Jika Kau Mencintaiku

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifat apa adanya yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul ketika saya bersandar di-dadanya yang bidang. 3 tahun masa pacaran dan 5 tahun masa-masa pernikahan hingga saat ini. Sekarang saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang tak menakjubkan lagi.

Saya seorang wanita yang sentimentil, benar-benar sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Sering saya berfantasi dan membayangkan suami saya bisa menjadi seperti pria-pria romantis di­ film-film, bahkan membanding-bandingkannya dengan mantan pacar-pacar saya yang terdahulu. Namun suami saya bertolak belakang, rasa sensitifnya kurang, ketidakbecusannya menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta. Dia orang yang terlalu apa adanya dan jauh dari romantis. Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tak pernah mau mengerti keinginanku", jawab saya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, " Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. " Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya, saya akan merubah pikiran saya". Saya menatap matanya dalam2 dan berkata "Seandainya, saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung curam dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untukku?" Dia terdiam cukup lama... dan berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Huuh...Hati saya jengkel sekali mendengar responnya.

Esok paginya, dia tak ada dirumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas berisi susu hangat yang bertuliskan: "Istriku Sayang... 'AKU TIDAK MAU MENGAMBILKAN BUNGA ITU UNTUKMU', tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Ya TUHAN, jawaban-nya itu menghancurkan hati saya. Saya lanjutkan untuk membaca kembali :

"Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis didepan monitor, aku harus memberikan jari2-ku supaya saya bisa menolongmu untuk memperbaiki programnya. "

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak rumah, membuka pintu untukmu. "

"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, aku harus menjemputmu, atau memberikan mataku mengarahkanmu saat kamu menyetir mobil. "

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, saya harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu yang pegal. "

"Kamu senang diam didalam rumah, dan aku kuatir kamu akan jadi "aneh". Sehingga aku harus memberikan mulutku untuk ceritakan humor dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu. Serta mengajar banyak hal tentang berita2 perkembangan dunia, agar kamu bisa terus mengikutinya. "

"Kamu senang membaca banyak buku dan itu tak baik untuk kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar saat kita tua nanti, aku masih dapat menolong menggunting kukumu dan mencabuti ubanmu, atau memegang tanganmu menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir laut yang indah, menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar indah seperti wajah cantikmu. "

"Sayangku, aku begitu yakin tak ada orang yang lebih mengenalmu selain diriku dan tak ada yang mencintaimu lebih dan aku mencintaimu. Aku ingin menjagamu dan bersamamu selalu. Karena itu, aku tak akan mengambil bunga itu lalu mati & tak bisa lagi bersamamu... aku ingin menemanimu seumur hidupku, hingga usai masa, hingga akhir segala sesuatu, percayalah...aku mengasihimu lebih dari yang kamu duga!"

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya, membuat tintanya menjadi kabur. Saya terlalu menuntutnya menjadi seorang yang bukan dirinya. Lalu, saya membaca kembali, "Dan sekarang sayangku, jika kamu telah selesai membaca jawabanku, jika kamu puas dgn semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti bakar kesukaanmu?"

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Oh, saya percaya, tidak ada org yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan saya tahu harus melupakan "romantisme film2" itu sendiri. Saya berjanji takkan pernah lagi memaksanya memetik "bunga" itu, saya akan mencintai cintanya yang tulus, jujur dan apa adanya meski terlihat kurang romantis.

Itulah kehidupan, ketika seseorang dikelilingi cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dalam perkawinan, karena sering kita abaikan pengorbanan-pengorbanan kecil sehari-hari dan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sederhana, sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tak berbentuk dan bisa juga dalam bentuk yang tidak kita ingini. Bunga, Perhatian, Saat-saat yg Romantis, Sapaan lembut, dsb, hanyalah bentuk awal dari suatu hubungan jangka panjang. Diatas semuanya itu, Pilar Cinta Sejati berdiri kokoh justru melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari, Pengorbanan2-pengorbanan sederhana yang jarang kita sadari dan hargai keberadaannya, namun sungguh bermakna.

Mengucap Syukurlah dalam Segala Hal....